Ironi memang. Sekarang malah hampir semua sekolahnya pada mengejar nilai. Banyak sekolah yang bisa dibilang "sudah terkenal" ingin dinilai sebagai "Sekolah Berkelas Internasional". Semua daya upaya difokuskan untuk mendapat nilai itu, seringkali tidak mengukur kondisi diri.
Sementara sekolah tetangga mau ambruk. Sementara anak tetangga baju sekolah saja sudah berubah warna dari putih jadi kuning kusam. Sedangkan dana pemerintah dengan mudah turun untuk sekolah elit, agar mencapai nilai "internasional". Dana yang tidak sedikit.
Dinilai dari kondisi fisik dan non fisik sekolah-sekolah yang mengejar nilai itu jauh dari standard. Yang terkecil saja: toilet, sudah berfungsi baik dan benar kah? Apalagi jika ditanya tentang guru. Bagaimana fasilitas yang dimiliki guru? Punya kantor kah atau meja kerja? Perpustakaan? Ada apa didalamnya? Kok jurnalnya gratisan? Fasilitas siswa sudah tertata baik? Apalagi administrasi... saya tidak tahu.
Mengapa mereka tidak sibuk saja memperbaiki diri supaya benar. Apa sih keuntungannya menjadi universitas internasional jika keadaan sebenarnya "jauh api dari panggang"?
Saya fikir seandainya semua hal internal berjalan dengan baik dan benar, status "internasional" tidak usah dikejar. Ia akan datang sendiri. Toh jika lulusannya sekolah ke luar-negeri, yang jadi jaminan adalah nama negaranya, bukan nama sekolahnya. Jadi jauh lebih baik kita berusaha "menyetarakan" seluruh sekolah di negeri ini. Mengapa harus ada sekolah pavorit? sekolah unggulan? Seharusnya semua kualitas sekolah sama, sehingga seorang anak bersekolah sesuai dengan domisilinya, tanpa harus mendapat materi pendidikan lebih rendah dari sekolah lain. Yang berbeda hanya tipe/jenis sekolah: kejuruan, umum, dll.
Saya seringkali tidak tega melihat anak-anak harus bersaing untuk masuk sekolah unggulan. Mengapa? Mereka kan sama, hasil didikan para guru Indonesia juga. Mengapa harus berebut bangku sekolah?
Mereka dikelompokkan dengan bilangan. Yang nilai bagus dianggap pintar, yang nilai jelek dianggap bodoh. Saya tidak percaya ini. Nilai seharusnya digunakan untuk melihat kecocokan anak itu pada profesi yang akan didapatnya kelak. Anak yang nilai matematikanya jelek, belum tentu bodoh, tapi dia tidak bisa disarankan untuk menjadi matematikawan. Dia bisa sukses di bidang lain. Ini yang seharusnya menjadi tugas utama sekolah: mendidik anak sesuai dengan kemampuannya. Begitu seharusnya. Jika dibiasakan hanya berusaha mengejar nilai, faktor kegagalan dimasa depan menjadi tinggi, karena sulit mempertanggung-jawabkan nilai tersebut.
Di tingkat universitas juga seharusnya sama. Ketika seorang mahasiswa tidak bisa mengikuti kuliah di satu jurusan, tidak usah dipaksakan. Kasarnya, biarlah dia "drop-out" agar bisa cepat pindah ke jurusan yang benar-benar dia minati. Dengan demikian mungkin dia akan lebih berhasil.
