Thursday, June 4, 2009

Mengejar nilai (part two)


Ironi memang. Sekarang malah hampir semua sekolahnya pada mengejar nilai. Banyak sekolah yang bisa dibilang "sudah terkenal" ingin dinilai sebagai "Sekolah Berkelas Internasional". Semua daya upaya difokuskan untuk mendapat nilai itu, seringkali tidak mengukur kondisi diri.

"Pokoknya dua tahun lagi kita harus menjadi rengking pertama di dunia"

Sementara sekolah tetangga mau ambruk. Sementara anak tetangga baju sekolah saja sudah berubah warna dari putih jadi kuning kusam. Sedangkan dana pemerintah dengan mudah turun untuk sekolah elit, agar mencapai nilai "internasional". Dana yang tidak sedikit.

Dinilai dari kondisi fisik dan non fisik sekolah-sekolah yang mengejar nilai itu jauh dari standard. Yang terkecil saja: toilet, sudah berfungsi baik dan benar kah? Apalagi jika ditanya tentang guru. Bagaimana fasilitas yang dimiliki guru? Punya kantor kah atau meja kerja? Perpustakaan? Ada apa didalamnya? Kok jurnalnya gratisan? Fasilitas siswa sudah tertata baik? Apalagi administrasi... saya tidak tahu.

Mengapa mereka tidak sibuk saja memperbaiki diri supaya benar. Apa sih keuntungannya menjadi universitas internasional jika keadaan sebenarnya "jauh api dari panggang"?

Saya fikir seandainya semua hal internal berjalan dengan baik dan benar, status "internasional" tidak usah dikejar. Ia akan datang sendiri. Toh jika lulusannya sekolah ke luar-negeri, yang jadi jaminan adalah nama negaranya, bukan nama sekolahnya. Jadi jauh lebih baik kita berusaha "menyetarakan" seluruh sekolah di negeri ini. Mengapa harus ada sekolah pavorit? sekolah unggulan? Seharusnya semua kualitas sekolah sama, sehingga seorang anak bersekolah sesuai dengan domisilinya, tanpa harus mendapat materi pendidikan lebih rendah dari sekolah lain. Yang berbeda hanya tipe/jenis sekolah: kejuruan, umum, dll.

Saya seringkali tidak tega melihat anak-anak harus bersaing untuk masuk sekolah unggulan. Mengapa? Mereka kan sama, hasil didikan para guru Indonesia juga. Mengapa harus berebut bangku sekolah?

Mereka dikelompokkan dengan bilangan. Yang nilai bagus dianggap pintar, yang nilai jelek dianggap bodoh. Saya tidak percaya ini. Nilai seharusnya digunakan untuk melihat kecocokan anak itu pada profesi yang akan didapatnya kelak. Anak yang nilai matematikanya jelek, belum tentu bodoh, tapi dia tidak bisa disarankan untuk menjadi matematikawan. Dia bisa sukses di bidang lain. Ini yang seharusnya menjadi tugas utama sekolah: mendidik anak sesuai dengan kemampuannya. Begitu seharusnya. Jika dibiasakan hanya berusaha mengejar nilai, faktor kegagalan dimasa depan menjadi tinggi, karena sulit mempertanggung-jawabkan nilai tersebut.

Di tingkat universitas juga seharusnya sama. Ketika seorang mahasiswa tidak bisa mengikuti kuliah di satu jurusan, tidak usah dipaksakan. Kasarnya, biarlah dia "drop-out" agar bisa cepat pindah ke jurusan yang benar-benar dia minati. Dengan demikian mungkin dia akan lebih berhasil.

Jika justru sekolahnya sudah mengejar nilai tanpa memperhatikan kondisi diri, apakah guru tidak malu menasihati murid untuk tidak sekedar mengejar nilai? Nilai yang didapat secara tidak jujur hanya memberikan kebahagiaan sesaat, dan menambah faktor random dalam hidup. Pola hidup berubah dari "kepastian" menjadi "untung-untungan".

Kemudian jika ditanya: "Siapa yang dididik para guru?", tentu jawabnya "Anak-anak bangsa!". Dan kemudian yang hidup dengan "untung-untungan" adalah bangsa kita!

Tuesday, June 2, 2009

Mengejar nilai (part one)


Konon seorang guru menasehati seorang muridnya. Katakanlah nama muridnya si Kasep.

"Sep, kalau kamu sekolah itu, belajarlah dengan baik. Cobalah untuk memahami apa yang kamu pelajari, sehingga dapat bermanfaat bagimu dan lingkunganmu nanti. Jangan hanya mengejar nilai. Walaupun kamu tidak mendapat nilai yang tertinggi, tapi kamu harus bisa bertanggung-jawab atas nilai tersebut."

Entah saya pernah dinasihati seperti itu (walaupun saya tidak kasep) oleh salah seorang guru saya, atau pernah menasihati seseorang demikian. Saya tidak ingat pasti. Paling tidak 4 poin terekam dalam benak saya:

1) bekerja "bener"
2) bermanfaat
3) tidak silau dengan nilai (pujian)
4) bertanggung-jawab


Siapapun pasti setuju, bekerja "bener" adalah modal utama dari keberhasilan. Katakanlah kita akan membangun sebuah mesin. Agar mesin ini bisa terwujud, beberapa tahapan "bener" harus dilalui. Mulai perencanaan, pengumpulan bahan, perhitungan-perhitungan, dan seterusnya. Beberapa detil seringkali menyulitkan. Akan tetapi dalam kerja yang "bener", kita tidak bisa begitu saja melompat dan melupakannya. Jika tidak... mesin kita akan banyak bolong, yang kian lama kian sulit diperbaiki.

Manfaat dari hasil pekerjaan yang kita lakukan akan terlihat, manakala semua fungsi dari sesuatu yang kita bangun dapat berjalan. Tahap pertama tadi (kerja "bener") benar-benar sangat penting. Jika tidak, mesin tidak berfungsi. Sehingga hanya bermanfaat sebagai pajangan. Tampak luar hebat, tapi isinya tidak lebih bernilai dari besi tua. Mungkin saja mesin berfungsi, tetapi membahayakan pemakai. Banyak sekali resiko jika tahapan-tahapan pekerjaan harus diloncati.

"...ah, biar baud yang ini mah gak usah dipasang. satu juga cukup..." (Weleeh...)

Nilai kadang perlu. Dengan adanya nilai mudah bagi orang lain untuk memilih dan men-sortir. Tapi, jika asal nilai bagus tanpa mengindahkan fungsi... Jangan-jangan kita hanya memoles mesin agar tampak baik padahal isinya buruk.

"..pokona mah cet we sing alus... biarin kurang roda satu juga, pokona
kajual dulu..." (Weleeeh...)

Nilai seharusnya datang dengan otomatis. Keluarnya nilai karena ada bukti dan evaluasi yang "bener" pula. Saya belum pernah tahu jika hasil kerja "bener" dapat nilai buruk dari pengamat. Harga dari hasil kerja seperti ini memang tak ternilai, jadi mengapa harus dinilai? Kerja yang benar memberikan kepuasan pada pelakunya, baik dengan atau tanpa pujian orang lain.

Memang beberapa hasil karya baik tidak diberi nilai baik oleh sang penilai. Tapi sepertinya penilai yang begini adalah penilai yang senang melihat wah tampilan luar, tanpa ingin mengevaluasi lebih jauh. Ini namanya nilai "asal" dan untung-untungan.

Dengan kerja yang baik dan sungguh-sungguh, kita bertanggung-jawab atas segala yang dikerjakan. Bahkan kita bisa memberi jaminan mutu, karena yakin akan apa yang telah dilakukan. Resiko semakin kecil, manfaat semakin besar, nilai baik datang dengan sendirinya.

Friday, May 29, 2009

Langit

Kenapa orang kok mengejar bintang di langit padahal dia tahu gak punya
sayap?
Saya benar-benar menyangsikan pepatah: "gantunglah cita-citamu setinggi
langit!"
Arti sinisnya: "Apapun yang kamu kerjakan, toh gak bakal mencapai
cita-citamu!"

Presepsi orang terhadap langit itu ternyata berbeda-beda. Kadangkala
langit itu dekat, satu saat langit itu nun jauh disana.
Saya fikir justru langit itu tidak ada. Langit adalah batas pandangan
kita, ketika fikiran dan logika tidak bisa melampauinya.

Jadi berbahagialah orang dengan IQ jongkok. Karena bagi mereka langit
itu dekat. Orang yang merasa bangga dengan IQ tinggi, justru malah harus
mawas diri. Dia tidak akan pernah bisa menggapai langit.

Semakin orang perpikir keras, semakin jauh pula langit dari dia. Semakin
orang menyerah, semakin dekatlah langit pada dia, karena dia tahu
fikiran dan logikanya terbatas. Seringkali dia limpahkan pula lah segala
yang dia tidak ketahui pada langit, dan menyalahkan apa yang tak kuasa
dia atur pada langit. "Itu adalah kehendak langit!"

Saya fikir, pola hidup begini sama saja dengan main dadu. Apa yang
terjadi, terjadilah.

Mungkin lebih baik jika pepatah itu menjadi: "Cita-cita itu didepan
matamu, lakukan dengan sungguh-sungguh apa yang ada dihadapanmu!"

Dengan demikian orang gak akan pusing lagi dengan langit. Toh
bagaimanapun langit semakin menjauh.

Sunday, December 7, 2008

Open source

Sebenarnya sudah lama saya menginginkan untuk membawa istilah open source ini pada tingkat aplikasi di tempat Institusi kerja. Namun, dasarnya saya tidak suka gembar-gembor, jadi gak pernah keluar dalam bentuk gagasan tertulis atau apapun. Saat ini teringatkan lagi fikiranku mengenai topik ini, trigernya adalah pertanyaan dari seorang rekan tentang kemungkinan menggagas open source.

Jika difikir, saat ini open source sepertinya jadi istilah yang populer, tapi berkesan klise. Maklum, manusia selalu pengen ikut-ikutan trend, jadi segala pun ya digunakan agar bisa jadi beken dan ngetrend. Open source itu sebenarnya tinggal laksanakan saja. Kenapa pula harus digagas? Toh semua software sudah ada koq. Tinggal pilih, terus pake, dan ikut nimbrung di forum depelopmentnya kalau mau.

Kalau saya lihat diri sendiri, apanya yang tidak open-source? Tidak ada, paling tidak saat ini, di dalam komputer yang saya pake ngetik ini satu software pun yang tidak open source. Sistem operasi (debian), ngetik dokumen (latex), proses data (awk,sed,bash, dll), programming (gcc), dan dua project saya publish di bawah GNU/GPL, nah? Terus mau apa lagi dengan Go Open Source (GOS)?
Yah, tentu saja, kalau secara perorangan/pribadi gak ada masalah. Tapi untuk institusi? Persoalannya lain Bung!

Mengapa demikian? Persoalannya, GOS dalam level pemakai adalah merubah kebiasaan orang. Sebuah institusi terdiri dari banyak sekali individu. Mereka memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, khususnya dalam hal pemakaian software. Nah sekarang terbayang sulitnya. Ketika seseorang membeli laptop, kebanyakan sudah preinstalled dengan sistem operasi closed source. Didalamnya juga sudah banyak sekali software-software komersial versi trial, yang kemudian memaksa dia untuk membeli beberapa bulan kemudian. Kalau tidak, ya membajak saja.

Tidak semua orang pula dapat dengan sabar mempelajari hal-hal baru, yang kebanyakan aneh dari software open source. Apalagi harus melawan angin propaganda dari software-software komersial. Apalagi jika dia sudah terbiasa menggunakan software komersial tersebut sejak di bangku sekolah.
Software Open Source (OSS) kebanyakan tidak sepenuhnya lengkap, karena kebanyakan merupakan abstraksi dan implementasi premature dari gagasan baru. Hal ini dapat membuat frustasi orang yang baru mencoba. Apa lagi orang-orang yang bersifat manja, yang selalu ingin segalanya telah tersedia tanpa berusaha keras.

Sebenarnya software-software komersial yang close source juga belum tentu lengkap. Akan tetapi karena kebanyakan dibuat secara profesional, dengan beberapa trik untuk menggiring pemakai untuk menggunakan "hanya" fasilitas yang dimiliki oleh software tersebut, maka orang pun menjadi terbiasa dan boleh dikatakan kecanduan. Sulit sekali bagi mereka untuk beralih ke software lain.
Saya berpendapat ini bukanlah sesuatu yang salah dari para pemakai. Pada sisi ini saya setuju sekali kalau GOS juga harus dipropagandakan lebih gencar. Paling tidak, dapat mengundang orang-orang untuk mencoba.

Bagi pribadi, GOS bisa dilakukan dengan mudah. Kita harus memiliki mental, bahwa ketidak sempurnaan itu justru mengasyikan (i.e. imperfectness is perfectness it self). Kira-kira apa yang dapat kita lakukan untuk GOS khususnya bagi sebuah institusi?

Menyarankan anggotanya untuk menggunakan software open source


Hal ini mudah saja dilakukan dengan mempermudah installasi software tersebut. Satu hal mudah yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan mirror local untuk software yang disarankan, misalnya Latex, Open-office, dan beberapa distribusi sistem operasi open source (Linux, BSD). Disini publikasi (propaganda) penggunaan software software tersebut juga sangat membantu. Misalnya dengan memasang logo-logo software dimaksud pada web-site intsitusi tersebut. Pendek kata langkah ini dapat dengan sangat mudah dilakukan.

Jika akses ke mirror ini disediakan pula untuk pengguna di luar institusi, maka impact yang didapat akan lebih baik lagi. Institusi tersebut tentunya dapat dikenal sebagai penyokong OSS. Tapi untuk hal ini diperlukan imprastruktur internet yang lebih baik, paling tidak bandwidth yang tinggi harus tersedia.

Berperan aktif dalam pengembangan OSS


Ini adalah tahap berikutnya dari GOS. Banyak sekali hal-hal positif yang bisa didapat. Untuk institusi pendidikan langkah ini adalah langkah yang mendidik dan juga menunjang perkembangannya.
Jika saja sebuah instusi dikenal sebagai salah satu pengembang software yang bertaraf internasional.
Menjadi pengembang OSS tidak harus berada di Eropa atau Amerika. Orang yang berada di tengah hutan sekalipun dapat langsung dikenal dunia, jika ternyata dia adalah pengembang sebuah software yang digunakan di seluruh dunia.

Nah saya yakin jika hal ini dilakukan di sebuah institusi pendidikan, maka mungkin saja ia akan meloncat menjadi bertaraf internasional dalam waktu dekat. Para lulusannya pun sepertinya dapat memiliki peluang yang lebih besar untuk terserap dengan baik lagi di dunia kerja.

Namun yang saya amati saat ini, kita seringkali memiliki pemikiran yang terlalu lokal, dengan membuat OSS lokal. Contohnya, banyak sekali software opensource yang memiliki target pengguna lokal, dengan nama lokal pula. Hal ini tidak salah. Akan tetapi, akan lebih baik jika kita turut mengembangkan OSS yang sudah ada di dunia, yang pemakainya pun seluruh dunia. Selain tidak usah memulai dari awal, juga memiliki impact yang lebih baik lagi. Dengan demikian kita tidak akan membuat dunia baru dengan ruang lingkup yang sempit.

Friday, November 28, 2008

Mulai dari yang sederhana

Saya teringat satu perkataan dari seorang profesor yang saya temui beberapa tahun kebelakang dalam sebuah konfrensi. Kalau tidak salah tahun 2005.Ketika mempresentasikan materinya, dia berkata sambil sedikit berkelakar:

"Buat yang mau mulai riset, mulailah dari hal yang simple, kemudian nanti dipersulit!"

Walaupun kata-kata itu hanya kelakar, tapi sepertinya kelakar dalam kesempatan seperti itu berdasar dari pengalaman pula. Di telinga saya ucapan itu selalu terngiang.

Setelah difikirkan, ternyata memang begitulah semestinya jika kita mau memulai sesuatu.Kita dapat memulai dari pendekatan yang mudah dan gambaran-gambaran yang simple.Jika hal yang sederhana itu terus kita gali, lambat laun akan menjadi lebih menarik sejalan dengan pengetahuan kita tentang detil-detil didalamnya ikut bertambah. Saya sendiri berpendapat bahwa semakin dalam kita menggali, semakin banyak pula yang kita tidak tahu. Inilah mungkin yang dimaksud dengan "kemudian nanti dipersulit". Menggali masalah sederhana itu ternyata selalu memberi hal-hal yang baru yang seringkali memerlukan pemikiran yang lebih banyak. Dalam satu cerita, Newton pun memulai dengan memikirkan buah apel yang jatuh, ujung-ujungnya dia menghasilkan dasar teori untuk fisika klasik.

Beberapa waktu lalu saya sempat pula melihat satu acara yang bertema "Kimia bahan makanan". Di poster-poster yang mereka pampang, saya lihat hal-hal yang bisa dikatakan sederhana yang kita temukan sehari-hari. Misalnya: "pengaruh pembakaran roti", "cara penyimpanan roti", dan lain lain. Setelah topik-topik tersebut mereka pelajari, munculah terminologi-terminologi baru yang kemudian menjadi jargon yang sulit dimengerti oleh orang yang bukan dibidangnya.

Saya teringat pula ungkapan seorang dosen ketika saya ikut nimbrung di kuliah bagi mahasiswa baru, yang kira-kira begini:

"Tugas seorang sarjana adalah, menterjemahkan sesuatu yang telah dia pelajari dalam kalimat yang awam"

Inilah yang sangat sulit. Setelah memulai dari yang sederhana, kemudian menggali hingga menemukan hal yang rumit,dan akhirnya harus berbicara dalam kata-kata sederhana yang dapat dimengerti orang awam. Namun begitulah, menurut saya, proses yang harus dilewati. Memiliki keahlian dalam bidang tertentu, bukanlah untuk membuat bidang tersebut lebih sulit dimengerti orang lain. Akan tetapi untuk mempermudah orang lain, yang awam, untuk mencerna. Dalam meneliti, contohnya, seringkali seseorang memulai dengan jargon-jargon atau istilah-istilah yang asing di telinga.

Ketika memulai suatu proses belajar atau meneliti, kadang dia terjebak dalam terminologi-terminologi rumit.Karena awal yang sulit, dapat berakibat proses itu terhenti di tengah jalan. Layu sebelum berkembang karena tahap awal yang terlalu menyerap energy. Sepertinya hal yang sama dapat pula terjadi dalam proses pengajaran. Misalnya ketika awal perkuliahan, seorang guru dapat saja mengeluarkan istilah-istilah rumit. Kemudian para murid terjebak dalam jargon yang tidak dimengerti sejak awal dan kehilangan semangat karena kesan rumit sudah menempel terlebih dahulu.

Dengan memulai dari hal sederhana, semangat menggali juga sepertinya lebih besar. Kita dapat tergelitik untuk bertanya: "masa sih semudah ini?", kemudian terus mencari lagi lebih detil, dengan penuh semangat.

Ada satu ungkapan yang menarik:

"If you can't explain it simply, you don't understand it well enough."

-Albert Einstein

Wednesday, August 20, 2008

Andai aku mahasiswa baru

Jadi mahasiswa baru itu seharusnya menyenangkan. Dia bisa berbangga karena usahanya untuk menempuh ujian-ujian seleksi berhasil sudah. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan ujian pun dirasa tidak sia-sia.

Mahasiswa baru pasti datang pertama kali ke kampus universitas dengan muka ceria, bangga dan dengan semangat baru pula. Moment ini adalah titik awal bagi dia untuk memulai mengenal ilmu-ilmu baru yang akan mengantarkan dia menjadi orang yang berguna.

Tapi bila kita melihat kenyataan, mahasiswa baru terpaksa harus melewati beberapa diding penghalang. Dinding-dinding ini seakan lebih berat untuk dilalui dibanding dengan ujian saringan masuk PT. Dinding pertama adalah biaya kuliah yang ternyata tidak murah. Orang tuanya ternyata harus lebih mengerutkan dahi lagi untuk memenuhi uang pendaftaran dan spp. Tapi apa boleh buat, semuanya bisa mengerti kalo biaya pendidikan itu tidak murah. Namun mahalnya biaya sekolah ini bisa dipertanggung-jawabkan.

Sebenarnya yang lebih membuat saya miris adalah penerimaan para anak-anak baru itu di universitas sendiri. Mereka yang seharusnya diberi selamat ketika memasuki lingkungan baru, malah menghadapi muka-muka garang dari kakak-kakak kelas. Pintu gerbang sekolah yang harusnya dilewati dengan ceria, malah dilewati dengan perasaan penuh ketakutan. Takut kalo salah langkah, takut kalo salah bicara, takut kalo harus push-up, dll.... Kasihan.

Coba kita fikirkan. Mereka harus bangun sangat awal (janari). Harus terburu-buru naik angkot. Bahkan beberapa tahun lalu ada yang bertanya pada saya seperti begini:

"Pak boleh gak solat subuh jam setengah lima?",
kemudian saya balik bertanya,
"Memang sudah adzan setengah lima?",
jawabnya, "Belum pak"

Nah lo! siapa yang bertanggung-jawab? Kalo nunggu adzan, kata anak itu, dia pasti terlambat, jadi ya solatnya di percepat saja.

Belum lagi, mereka diperlakukan seperti anak taman kanak-kanak. Dengan kucir lah, dengan pita lah. Tugas yang lucu-lucu dan gak masuk akal. Semua serba membingungkan, walaupun para panitia menjelaskan, berbusa-busa, alasan yang dipaksa masuk akal pada dosen pembimbingnya. Tapi tetap saja tidak masuk akal.

Ini semua budaya. Yang namanya budaya, kadang memang tidak masuk akal.

Pertanyaan untuk kita sekarang:
Apa sih gunanya semua itu?
Mengapa harus menghambur-hamburkan biaya ketika pos lain sedang membutuhkan?
Mengapa awal pembelajaran selalu diawali dengan mematikan daya fikir kritis dari mahasiswa baru?
Apakah tidak lebih baik jika mereka memulai sekolah barunya dengan wajah ceria dan perasaan bangga?
Apakah senyuman kita terlalu mahal sehingga makian kakak kelas lebih baik untuk mereka?

Para mahasiswa baru seringkali merasa frustasi menghadapi sikap kakak kelasnya. Serba salah. Apakah anda berfikir frustasi adalah awal pembelajaran yang baik?

Bagi para kakak kelas hal ini juga, menurut saya, sangat tidak baik. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk belajar, malah digunakan untuk menangani adik-adiknya. Mereka mulai belajar, bagaimana caranya bicara kasar dan menakutkan. Apakah ini berguna untuk mereka kelak?

Dari sisi dosen juga membingungkan. Kita seringkali meloloskan ketidak-senonohan akibat tidak mengerti batasan-batasan perilaku kakak kelas terhadap adik kelas. Batasan ini memang sangat relatif dan subjektif. Para kakak kelas pun disini sudah mempersiapkan berbagai alasan jika ditanya dosennya. Bahkan kadang mereka mulai belajar untuk melawan guru.

Memang saya dengar hal ini sudah mulai diawasi dengan ketat oleh berbagai fihak. Tapi kenyataannya, tahun lalu pun masih banyak ditemui ketidak layakan. Walaupun mungkin bukan di Unpad.

Tapi dibalik itu semua, yang paling saya fikirkan adalah para mahasiswa baru sendiri. Kasihan mereka.

Saya menghayalkan, mereka masuk kelas di hari pertama dengan rasa riang dan bangga. Dengan demikian mereka mulai merasa menjadi pribadi yang dewasa, mandiri, kritis, dan berfikiran lebih bebas.


ZA, 20.08.08

Yudi

Monday, July 14, 2008

Jual diri saja?

Ketika datang ke negara orang, pasti, setiap scholar dengan paspor biru memiliki rasa bangga menjadi orang yang terpilih mengemban tugas negara. Terperangah dengan kemegahan negara lain tumbuh menjadi cita-cita untuk membangun negeri tercinta, dengan harapan kelak menjadi sehebat dan semegah negara yang ia datangi saat itu. Tekad, cita-cita, berbaur menghasilkan semangat yang tinggi untuk belajar pantang menyerah, agar kembali nanti bisa menyumbangkan sesuatu pada negeri.

Perasaan itu menjadi modal dasar setiap scholar. Modal ini harus dimiliki banyak-banyak sebelum dan ketika datang ke negara orang. Mengapa demikian? Jujur saja modal ini kelak akan terambil satu-persatu, mengikuti fungsi yang monotonik menurun. Jika modal tersebut terkikis habis, apa yang akan terjadi?

Apa gerangan yang mengikis modal dasar ini? Kebanyakan adalah kesimpang-siuran dan ketidak luwesan bangsa kita sendiri. Alih-alih merasa jadi petugas negara di luar negri, malah merasa jadi orang yang dibuang. Saya dulu terperangah ketika mendengar, ada salah seorang rekan sesama pemegang paspor biru, membuang paspor itu begitu saja, dan menggantinya dengan yang berwarna merah. Paspor dari negara dimana dia berada saat ini. Namun ketika saya alami keruwetan birokrasi dan ketidak luwesan aturan, saya bisa memahami tindakan dia. Walaupun demikian, saya masih tetap mengharamkan tindakan itu bagi diri saya sendiri.

Saya coba rinci apa yang dapat mengikir modal-modal ini,

(1)
Ketika datang di negara orang, seorang scholar diharuskan untuk melakukan birokrasi kecil-kecilan "daftar diri". Sebenarnya daftar diri ya tidak seberapa susah dan tanpa biaya. Cuma sarat-sarat yang kesannya menakut-nakuti membuat enggan. Tapi bagi orang yang baru datang, dan kuper (seperti saya), hal ini jadi beban tersendiri. Namun ya, alasannya memang dapat dimengerti. Supaya negara mengetahui posisi warganya. Tapi apakah tidak cukup dengan telpon saja? Semacam foto dll, kan sudah terdaptar di deplu pada saat meminta paspor.

(2)
Ketika pulang ke indonesia untuk berkunjung, beberapa hal harus dilakukan, yakni;
a) Minta surat berlibur dari kjri. b) Di indonesia harus minta exit permit, pergi ke jakarta berpanas-panas, bayar 20 rebu perak, nunggu 5 jam, dapat satu cap di paspor. fuiih!
Bingung. Kan sudah jelas dia tinggal di luar negeri. Pulang... kok gak bisa balik lagi? Sedangkan berkunjung ke negara lain gak ada masalah.

(3)
Repot juga ngurusin setkab, yang setiap saat habis masa berlakunya. Kalau tidak, paspor tidak dapat diperpanjang lagi. Ketika setkab itu ada tapi waktunya tidak cukup (kurang dari setahun), petugas perpanjangan meminta pula surat lain dari institusi untuk mengijinkan perpanjangan selama satu tahun. Untuk jika petugas di Indonesia baik, bisa langsung mengeluarkan surat. Jika tidak? Minta inilah, minta itulah, yang akhirnya memakan waktu yang tidak sebentar. Dan yang jelas membuat pusing dan gerah.

(4)
Yang sebenarnya sangat esensial adalah: KURANGNYA SENYUMAN DARI PARA PETUGAS INDONESIA. Ini merupakah satu hal yang sangat menjijikkan. Katanya Indonesia itu orangnya ramah-tamah, bla.. bla.. bla.. Tapi saya kok susah menemukan petugas bandara dengan senyuman manis.

Mungkin ini adalah sindrom dari sebagian (besar atau kecil) scholar dari negeri saya. Yang terbayang dari wajah Indonesia adalah, kemacetan serba kemacetan. Mulai dari jalan-raya hingga birokrasi. Penat, wajah tak bersahabat, ketidak jelasan nasib, kesemerawutan peraturan, dan banyak kesemerawutan lainnya yang hampir menyelimuti wajah negeri ini.

Dilain pihak, negara yang dikunjungi terlihat lebih cemerlang. Birokrasi yang tidak njelimet, kesamaan hak manusia, fasilitas umum yang manusiawi, dan banyak lagi. Belum lagi negara-negara ini kekurangan manusia, sehingga banyak tawaran untuk orang luar ber-imigrasi. Paling tidak saya mengenal dua kasus yang melepas WNI-nya dan beralih jadi warga disini. Mantan pemegang paspor biru pula. Namun sekarang saya bisa memahami.

Tapi, saya ini orang yang cinta Indonesia. Saya mengharamkan hal itu terjadi pada diri saya. Saya rindu teman-teman yang selalu membantu, yang selalu meringankan birokrasi yang harus saya lakukan, karena saya benci birokrasi. Saya rindu para orang tua di Indonesia, yang selalu mendukung saya, mendorong dan membimbing hingga ke titik saya berada saat ini.

Benar, ini adalah idealisme saya yang selalu dipertahankan.
Tapi ketika idealisme itu terbentur karang?
Bagaimana nanti anak saya melanjutkan sekolah?
Bagaimana nanti penghidupan saya?
Bagaimana nanti saya bisa membangun bangsa tanpa fasilitas minimum?

Tapi selama ada TEMAN yang dirindukan... Jawaban dari pertanyaan itu adalah: TIDAK!